interstitial

popunder

Kenapa Murid Di Sekolah AYAH EDY Tidak Memakai Seragam?

Kenapa Murid Di Sekolah AYAH EDY Tidak Memakai Seragam? - Di sekolah kami murid-murid sekolah sengaja tidak memakai baju seragam, mereka boleh memilih sendiri pakaian yang menjadi kesukaan mereka dengan kategori nyaman dan sopan. Kecuali saat kegiatan outing/visit untuk alasan keselamatan dan monitoring, karena kami membutuhkan seragam sebagai identitas dan alat untuk memantau keberadaan murid-murid kami saat berada di lapangan.
Seseorang pernah bertanya pada saya
Tanya: "Kok gak pakai seragam sih anak muridnya ??"
Jawab: Ya... Karena anak-anak itu unik dan berbeda-beda dan tidak ada yang sama dan seragam. Jadi mengapa harus diseragamkan.
Tanya: Tapikan nanti justru akan ada gap antara baju anaknya orang kaya dan Miskin.
Jawab: Oh justru sebaliknya, dengan tidak berseragam anak akan belajar tentang perbedaan antara kaya dan miskin sejak masih kecil.
Mereka mulai tahu adanya perbedaan baju mahal dan baju murah, maka kita para guru akan menjadikan pelajaran, baju manakah sebenarnya yang cocok bagi kita. Kita akan ajari anak-anak tentang azas manfaat, efektif dan efisien.
Mereka akan tahu adanya anak orang kaya dan orang miskin, maka kita para guru akan menjadikan ini pelajaran di kelas bagaimana yang kaya bisa membantu yang miskin dan selalu saling berempati terhadap masalah-masalah teman mereka yang kurang mampu.
Mereka akan mulai tahu dan merasa minder karena baju si miskin kurang terlihat bagus dan mewah, Maka kita para guru akan menjadikan ini pelajaran di kelas bagaimana kualitas manusia itu tidak di ukur dari baju yang dipakainya, melainkan dari Akhlak dan Budi Pekertinya serta seberapa manfaat bagi orang lain. Kami akan mengingatkan bahwa Rasul saja hanya memiliki beberapa baju yang di pakai berulang-ulang setelah di cuci, di keringkan, secara bergiliran. Namun tak satupun orang menilai Rasul karena baju yang dikenakannya, melainkan pada akhlak yang dimilikinya.
Mereka yang anak orang kaya mungkin akan mulai merasa ponggah dan sombong karena baju yang dipakainya bermerek dan mahal harganya. Sekali lagi kami para guru akan menjadikan ini pelajaran di kelas sampai anak paham bahwa orang yang sombong itu tidak di sukai orang lain dan hidupnya akan di jauhi oleh orang, juga kualitas manusia itu tidak ditentukan seberapa mahal baju yang dipakainya, tapi seberapa baik dan manfaat dirinya bagi orang lain.
Tanya : Tapi kalau pakai baju seragamkan nanti jika sudah tidak terpakai bisa diwariskan untuk adiknya.
Jawab: Baju bukan seragampun sama bisa di wariskan, jadi tidak ada bedanya.
Tanya : Tapi kalau tidak berseragamkan jadi tidak tampak kalau dia sedang bersekolah.
Jawab: Dalam kehidupan ini ada para pekerja yang berseragam, tapi lebih banyak Karyawan yang tidak berseragam. Apakah jika tidak berseragam maka dia tidak tampak sedang bekerja.
Pertanyaan penting adalah apakah ketika nanti anak kita bekerja, orang tua ingin anaknya menjadi pekerja yang berseragam atau dengan baju bebas. ?
Tanya: Masalahnya kita sudah terbiasa kalau anak sekolah itu ya berseragam ayah ?
Jawab: Saya pernah baca tulisan ini di salah satu Markas TNI di Malang;
"Kebiasaan itu belum tentu baik, Yang baik itu perlu dibiasakan"
Saya kagum dengan kalimat ini, jadi saya ingat terus sampai hari ini.
Tanya: Bagaimana jika saya ingin anak saya sekolah dengan berseragam ?
Jawab: Silahkan ibu bisa cari sekolah yang menggunakan seragam.
Karena disekolah kami tidak bisa memenuhi keinginan ibu,
Karena sekolah kami ini adalah sekolah yang berusaha memahami bahwa setiap anak itu unik dan berbeda-beda, mereka tidak perlu di seragamkan, justru mereka perlu dididik untuk memahami dan menghormati perbedaan, bahwa perbedaan tidak salah, asalkan baik dan saling memberikan kebaikan.
Dan coba tolong pahami, dari pertanyaan ibu, kami melihat sebenarnya yang ingin berseragam adalah orang tuanya dan bukan anaknya, nah jadi coba tanyalah anaknya lebih suka mana memakai baju seragam atau baju yang menjadi favoritnya sehari-hari.
Tanya: Tapi jika tidak berseragam kesannya ia tidak sedang bersekolah dan belajar gitu lho ayah.
Jawab: Nah ini dia, belajar itu tidak hanya di sekolah, dan belajar itu tidak harus berseragam, jangan sampai pikiran bawah sadar anak menangkap bahwa belajar itu hanya ketika mereka di sekolah dan berseragam. Jadi ketika mereka tidak disekolah dan lepas seragam mereka berhenti belajar. Itulah yang terjadi saat ini.
Mari kita sadari bersama bahwa belajar itu kapan saja, dimana saja dan dari siapa saja. tidak ada batasannya, dan bahkan jika kita muslim, belajar itu dikatakan mulai dari buaian hingga ke liang lahat.
Dan ingatlah para ilmuan dunia yang menjadi penemu besar baik dari Barat maupun Timur... tak satupun dari mereka memakai baju seragam dalam melakukan penelitiannya.
Tanya: Begini lho maksud saya kalau anak sekolah tidak pakai seragam kesannya seperti sedang main-main....
Jawab: Oh apakah ibu pikir bahwa belajar itu harus serius dan tidak boleh sambil main-main. Apakah kalau anak kita sedang bermain mereka tidak belajar.
Perhatikan saat anak main petak umpat, mereka akan belajar tentang bersosialisasi, mereka akan belajar tentang strategi bersembunyi, mereka sedang belajar berusaha menemukan orang yang sedang bersembunyi, mereka sedang melatih kesabaran bagaimana menemukan temannya yang sembunyi di tempat2 yang sulit ditemukan, dsb.
Saat anak kita main tali karet, maka ia sedang belajar mengaktifkan motorik kasarnya, belajar mengolah tubuhnya, belajar mengatasi rintangan dengan melampaui karet dsb.
Yang menarik adalah Einstein yang kata orang jenius itu pernah berkata bahwa bagi anak-anak Belajar itu sama dengan bermain dan bermain itu sama dengan belajar.
Saya punya film Einstein; yang menceritakan bagaimana ia mengajari anaknya ilmu Fisika. Dan kita akan terkejut, jika melihatnya bahwa Einstein tidak pernah mengajari anaknya di meja belajar, melainkan di Tangga sambil menjatuhkan telur, lalu ia mengajari anaknya tentang Gaya Grafitasi, Momentum, Dan hukum Aksi Reaksi.
Lain waktu ia mengajak anak-anaknya membuat perahu layar kecil di danau yang bisa berjalan jika ditiup angin. Dan disana ia mengajari anaknya tentang sumber daya energi angin, Masa Benda yang bisa terapung di air, dan sebagainya.
Tanya: Terus kalau tidak berseragam di sekolah mereka akan belajar apa ?
Jawab: yang paling utama adalah mereka akan belajar menjadi dirinya sendiri, mengenali dan memahami apa yang menjadi kekuatan dan kelemahannya sendiri dan bagaimana bisa menjadikan kelemahannya untuk bisa menemukan kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya
Semisal anak yang sulit diajari membaca, mereka akan menyadari bahwa kekuatan mereka bukan di membaca melainkan di imaginasi dan menggambar. Kemudian anak yang tidak bisa duduk diam saat belajar mereka akan menyadari bahwa kekuatan mereka adalah bergerak dan mereka cocok untuk orang-orang yang berprofesi di lapangan yang memerlukan energi pergerakan tinggi semisal olahragawan, even organizer, tentara dsb.
Anak-anak yang kurang suka matematika, biasanya kekuatan mereka adalah dibidang seni dan sosial. Anak yang kurang suka bersosialisasi, biasanya kekuatan mereka adalah di ketekunan semisal membuat program komputer, animasi, grafis, melukis dll.
Mereka di yakinkah bahwa setiap anak itu tidak ada yang sama dan seragam, mereka memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, mereka kami ajari untuk saling menghormati perbedaan, saling mendukung dan menyemangati kelemahan temannya untuk bisa bangkit menemukan kekuatannya.
Dan banyak sekali yang akan mereka pelajari dari kondisi perbedaan mereka saat mereka tidak menggunakan seragam dan tidak di seragamkan melalui sistem pendidikan kita yang sebenarnya lebih mirip pabrik BATAKO ketimbang sekolahnya manusia.
di tulis olah Ayah Edy
Pimpinan Sekolah Maha Karya Gangga
Singaraja, Buleleng, Bali 
(https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1084757591595341&id=141694892568287)

Labels

2016 (1) aa gym (1) aadc2 (1) adab (1) adisas (1) agama (2) air kelapa (1) akhlak (1) akun palsu (1) anak (3) anfield (3) anies (1) antri (1) arifin ilham (1) arsenal (1) asian games (1) awet muda (1) ayah edy (1) badminton (2) bajaj (1) ballon d'or (1) ban pecah (1) bank (1) berpelukan (1) bosnia (1) bradley (1) brazil (1) bully (1) bulu tangkis (2) buncit (1) capello (1) cicak (1) dakwah (1) darah (1) diet (1) ducati (1) facebook (1) film (1) final piala sudirman (1) fir'aun (1) fitrah (1) gadai (1) genosida (1) guru (3) guru sekumpul (1) guru semman mulya (1) hikmah (1) hukum (1) hutang (1) iblis (1) ibrahimovic (1) ibu hamil (1) idul fitri (1) iga champions (1) islam (3) istri (1) jadwal (1) jamie vardy (1) jefri al-bukhory (1) jumping smash (1) kacang hijau (1) kecantikan (1) keperawanan (1) ketiak (1) kisah (1) klopp (1) kurma (1) lebaran (1) leicester city (1) Leicester City vs Liverpool (1) lelang (1) liga inggris (3) liverpool (2) liverpool vs arsenal (1) liverpool vs MU (2) maaf (1) madrid (1) makanan (1) mancing mania (1) marquez (1) mentimun (1) messi (1) mode (1) moral (1) moto gp (3) moto gp 2016 (1) motogp (3) motor klasik (1) MU (2) mualaf (1) murid (1) neraka (1) nikah (2) nikah beda agama (1) nilai (1) olahraga (1) orang tua (1) otak (1) pacquiao (1) pakain (1) pangkat (1) pedrosa (1) pembalap wanita (1) pendidik (1) pendidikan (3) pengemis (1) perawan (1) pergaulan bebas (1) perut (1) PGRI (1) piala dunia 2018 (1) piala thomas uber (1) PNS (1) prestasi (1) PTK (1) pungli (1) rahasia (1) rasulullah (2) riba (1) romantis (1) salah kiblat (1) santet (1) sehat (1) sekolah (2) sentul (1) sepatu paltinum (1) setan merah (2) sidang (1) sihir (1) siswa (1) sitaan (1) suami istri (2) surga (1) syair (1) syarat (1) syirik (1) teror jakarta (1) tilang (1) tinju (1) toleransi (2) uang (1) uje (1) uruguay (1) wali (1) wanita (2) ya hanana (1) Yamaha (1) zakat (1) zidane (1)